Medan –
Suasana haru menyelimuti area Perkuburan Jalan Sutomo Ujung/Bambu II, Kota Medan, Minggu (15/02/2026).
Di bawah langit pagi yang teduh, keluarga besar Almarhum Djamaan dan Almarhumah Kasirah melangkah perlahan menuju pusara kedua orang tua dan keluarga tercinta.

Wo Nani, Wo Indo, Wak Men, Wo Ita dan Zam Zam Jamilah tampak datang bersama, membawa bunga dan air untuk membersihkan makam.
Ziarah ini bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan tradisi keluarga dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Setibanya di lokasi, mereka langsung membersihkan makam, tatapan mereka tak lepas dari pusara yang menjadi saksi bisu perjalanan hidup orang-orang yang begitu mereka cintai.

Suasana semakin haru saat doa mulai dipanjatkan. Dengan suara lirih dan bergetar, ayat-ayat suci dilantunkan, memohonkan ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah SWT bagi Almarhum Djamaan dan Almarhumah Kasirah dan keluarga yang dalam satu makam lainnya
Beberapa kali, isak tangis tak tertahan, terutama ketika Wo Indo mengenang masa lalunya semasa kedua orang tuanya.
Wo Nani terlihat mengusap air mata saat menaburkan bunga di atas pusara. Wo Indo dan Wak Men berdiri dengan kepala tertunduk, sementara Wo Ita dan Zam Zam Jamilah saling menguatkan satu sama lain.
Tabur bunga dilakukan perlahan, penuh penghormatan, sebagai simbol cinta yang tak pernah putus meski maut telah memisahkan.
Bagi keluarga ini, ziarah jelang Ramadhan bukan hanya tradisi turun-temurun, tetapi juga momentum mempererat silaturahmi.
Sebelum memasuki bulan penuh ampunan, mereka ingin memastikan doa-doa terbaik telah sampai kepada orang tua dan keluarga yang telah lebih dahulu berpulang.
“Setiap menjelang Ramadhan, kami selalu datang. Ini cara kami mengingat, mendoakan, dan menyambung kasih sayang,” ungkap salah satu anggota keluarga dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Muslim. Selain mengingatkan pada kematian, momen ini juga menjadi refleksi diri agar memasuki bulan suci dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.
Di akhir ziarah, keluarga berdiri sejenak memandangi makam yang telah ditaburi bunga warna-warni. Mereka pulang dengan langkah perlahan, membawa harapan agar Ramadhan 1447 Hijriah menjadi bulan yang penuh berkah, sekaligus keyakinan bahwa doa-doa mereka akan selalu menyertai Almarhum Djamaan dan Almarhumah Kasirah dalam keabadian.(red)



